| Skema Sistem Diklat Gerakan Pramuka |
|
|
|

| Skema Sistem Diklat Gerakan Pramuka |
|
|
|

| Perkembangan Darma Pramuka dari masa ke masa |
|
|
|
| Kupas tentang SKK dan TKK Pramuka |
|
|
|











| User Comments |
Comment by gamer_cute@yahoo.co.id on 2011-10-10 06:13:45 klo boleh nanya, di SK yg mana ya yg menerangkan soal pemasangan tanda kecakapan khusus pada slempang dari kanan ke kiri? biar teteg gitu |
Comment by scoutmaster on 2011-11-13 11:13:59 TKK adalah tanda kecakapan khusus bagi anggota pramuka, yang menjadi pertanyaan adalah pedoman materi kecakapan tersebut yang belum ada, sehingga banyak dari pembina hanya sekedar memberi tanda tersebut kepada pesdiknya tanpa melaksanakan pengujian atau bahkan melatih pencapaian SKK tersebut, bahkan banyak pembina dan pelatih tidak tau tentang nama2 TKK tersebut, jangankan teknis SKK nama TKK itu aja banyak yang tidak tau. hal ini sangat merugikan bagi para pesdik itu sendiri, bahkan banyak pula salah pemasangan TKK yang seharusnya dipasang pada lengan baju sebelah kanan eh malah dipasang di sebelah kiri. saran kepada kwarnas untuk meninjau kembali tentang PP SKK dan TKK terutama kewenangan pengujian lebih baik di limpahkan ke kwartir ranting atau cabang, agar kualitas pramuka semakin dapat dipercaya...Salam Pramuka |
Comment by ahmad romi on 2012-03-16 22:37:34 terima kasih ka, artikel/ sumber ini sangat membantu bagi kami para pendidik di lapangan, terlebih andik2 di SDN Sukra I dan SMPN 1 Patrol serta anak2 pandega SMKN 1 Kandanghaur, Bravo smua by kang amin. |
Comment by ulya on 2012-11-24 22:22:45 trimakasih....teruslah berkarya demi kemajuan pramuka Indonesia...salam hangat dari SMP N 1 gringsing Batang... |
Comment by Usman on 2012-11-25 21:26:27 Kami minta panduan rangkaian upacara siaga, penggalang dan penegak yang paling lengkap |
Comment by langgengsefti@ymail.com on 2012-12-30 15:09:53 Bagaimana cara penyelesaian SKK utk pesdik. Apakah disesuaikan dgn bakat atau minat atau harus diselesaikan dulu TKK wajibnya setelah itu baru yg lain??? Mohon penjelasannya, dan trims sebelumnya |
Tahun
1896, Baden-Powell ditugaskan ke daerah Matabeleland di Rhodesia
Selatan (sekarang dikenal dengan nama Zimbabwe) sebagai Chief of Staff
di bawah Jenderal Frederick Carrington selama Perang Matabele Kedua, dan
disanalah pertama kalinya ia bertemu dengan orang yang nanti menjadi
sahabat karibnya, Frederick Russell Burnham, tentara kelahiran Amerika
Serikat yang menjabat sebagai kepala pasukan pengintai Inggris.
Keberadaannya di sana akan menjadi pengalaman yang sangat penting, bukan
hanya karena Baden-Powell berkesempatan memimpin misi sulit di wilayah
musuh, tetapi saat-saat itulah Ia banyak mendapat inspirasi untuk
membuat sistem pendidikan kepanduan. Ia bergabung dengan tim pengintai
(mata-mata) di Lembah Matobo. Burnham mulai mengajari woodcraft kepada
Baden-Powell, keahlian yang juga memberikan inspirasi untuk menyusun
program/ kurikulum dan kode kehormatan kepanduan. Woodcraft adalah
keahlian yang banyak dikenal dan dikuasai di Amerika, tetapi tidak
dikenal di Inggris. Keahlian itulah cikal bakal dari apa yang kiri
sering disebut Ketrampilan Kepramukaan.
Tiga
tahun kemudian, di Afrika Selatan selama Perang Boer II. Baden-Powell
ditempatkan di kota kecil bernama Mafeking dengan jumlah pasukan Boer
yang jauh lebih banyak dari pada di tempat sebelumnya. The Mafeking
Cadet Corps adalah sekelompok anak muda yang bertugas membawakan pesan
untuk pasukan lain. Meskipun mereka tidak berpengalaman dalam menghadapi
musuh, mereka berhasil melawan musuh mempertahankan kota (1899–1900),
dan kejadian inilah yang juga menjadi salah satu faktor yang mengilhami
Baden-Powell dalam membuat materi kepanduan. Setiap orang dalam pasukan
itu menerima bedge penghargaan berbentuk jarum kompas yang
dikombinasikan dengan ujung anak panah. Bedge ini bentuknya mirip dengan
fleur de lis, logo yang hingga kini digunakan sebagai logo organisasi
kepanduan di banyak negara di dunia.
Musim
panas 1907, Baden-Powell melakukan promo dan bedah buku barunya,
“Scouting for Boys”. Ia tidak sekedar menulis ulang buku “Aids to
Scouting” yang lebih banyak materi kemiliterannya. DI buku yang baru
itu, aspek kemiliterannya diperkecil dan digantikan dengan teknik-tekni
non-militer (terutama survival) seperti pioneering dan penjelajahan. Ia
juga memasukka perinsip edukasi yang inovatif, disebut Scout method
(metode kepramukaan). Ia juga berkreasi dengan membuat game-game menarik
sebagai sarana pendidikan mental.| Kelapa, Pohon serba Guna |
|
|
|
Pohon
kelapa yang disebut juga dengan pohon nyiur biasanya tumbuh pada daerah
atau kawasan tepi pantai. Sangat banyak manfaat yang dapat kita peroleh
dari pohon kelapa. Mulai dari batang, daun dan buahnya, semua dapat
dimanfaatkan. Mungkin karena manfaatnya sangat banyak, pohon kelapa
dijadikan logo "Praja Muda Karana" (Pramuka) di Indonesia. Dalam
klasifikasi tumbuhan, pohon kelapa termasuk dalam genus : cocos dan
species : nucifera. Nah, sekarang mari kita bahas satu persatu bagian
dan manfaat dari pohon kelapa.
Batang
kelapa tua dapat dijadikan bahan bangunan, mebel, jembatan darurat,
kerangka perahu dan kayu bakar. Batang yang benar-benar tua dan kering
sangat tahan terhadap sengatan rayap. Kayu dari pohon kelapa yang
dijadikan mebel dapat diserut sampai permukaannya licin dengan tekstur
yang menarik
Daun
kelapa sering digunakan untuk hiasan atau janur, sarang ketupat dan
juga atap rumah. Tulang daun atau lidi dijadikan barang anyaman, sapu
lidi dan tusuk daging (sate). | Tata Cara dan Pemakaian TKK |
|
|
|

Sri
Sultan Hamengkubuwono IX ( Sompilan Ngasem, Yogyakarta, 12 April
1912-Washington, DC, AS, 1 Oktober 1988 ) adalah seorang Raja Kasultanan
Yogyakartadan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau juga Wakil
Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973-1978. Beliau kita kenal
sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Semangat
menyatukan berbagai organisasi kepanduan yang tumbuh di Indonesia
setelah proklamasi kemerdekaan terus berkobar. Hal itu membuat Presiden
Soekarno lantas berkoordinasi dengan Pandu Agung, Sri Sultan Hamengku
Buwono IX.